Multimedia pembelajaran revolusi industri era 4.0

  ERA disrupsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah mulai dirasakan di berbagai negara maju. Di antaranya pada sektor industri media massa berbasis cetak. 
     Laju penetrasi internet yang begitu masif menghasilkan beragam inovasi perangkat lunak berteknologi canggih yang memikat masyarakat. Mengakses informasi berupa berita kini tidak lagi harus dengan memegang puluhan lembar kertas berukuran besar. Pembaca cukup menggenggam telefon seluler pintar yang terkoneksi dengan internet.
  Era disrupsi TIK bukan hanya bakal menggerus bisnis konvensional semacam media massa cetak, melainkan juga mengubah ekosistem dunia pendidikan, susunan baku lapangan pekerjaan, dan struktur interaksi antarmanusia. 
Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memperkirakan, datangnya disrupsi TIK ke dalam negeri bisa 5-10 tahun ke depan atau bahkan dimulai esok hari. Manfaat dan mudaratnya tidak bisa diukur secara pasti dan kapan akan terjadi. Yang jelas, era yang—oleh Kemenristekdikti—disebut Revolusi Industri 4.0 itu pasti datang ke Indonesia, cepat atau lambat.
    Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan bahwa tantangan revolusi industri 4.0 harus direspon secara cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan di lingkungan Kementerian, Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) agar mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah persaingan global. Hal ini diungkapkan Menteri Nasir dalam pembukaan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2018 yang digelar di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Medan(17/1).
Menristekdikti di awal sambutannya mengatakan bahwa pelaksanaan Rakernas 2018 terasa istimewa karena 3 Menteri Kabinet Kerja turut menghadiri acara pembukaan yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimujono. Menristekdikti mengatakan pada Rakernas 2018 yang mengangkat tema “Ristek Dikti di Era Revolusi Industri 4.0” akan dibahas langkah-langkah strategis yang perlu dipersiapkan Kemenristekdikti dalam mengantisipasi perubahan dunia yang kini telah dikuasai perangkat digital.
    “Kebijakan strategis perlu dirumuskan dalam berbagai aspek mulai dari kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, serta pengembangan cyber university, risbang hingga inovasi. Saya berharap dalam Rakernas ini dapat dihasilkan rekomendasi pengembangan iptek dikti dalam menghadapi revolusi industri 4.0. ,” ujar Menteri Nasir.
   Menristekdikti menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:
  1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy.
  2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.
  3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi.
  4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri, dan Masyarakat.
  5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.


  ”Contoh paling mudah yang sudah dirasakan dalam era disrupsi ini adalah perkuliahan tidak akan banyak secara tatap muka di kelas. Bisa melalui video conference, e-learning, dan distance learning. Kalau itu bisa dilakukan, perguruan tinggi harus mulai mencobanya. Ini yang harus kami lakukan, tetapi saya belum membuat regulasinya,” kata Menristekdikti Mohamad Nasir di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu 13 Desember 2017.
   Ia mengatakan, dengan pola kuliah seperti itu, kurikulum pendidikan tinggi nasional tidak secara otomatis harus berubah. 
   Meskipun demikian, kompetensi para dosen sudah mutlak harus ditingkatkan. Pasalnya, kuliah e-learning akan mereduksi interaksi antara dosen dan mahasiswa. 
     Jika dosennya tidak mampu menjelaskan mata kuliah secara komperehensif dan jelas, mutu lulusan yang akan dipertaruhkan. 
  ”Kompetensi dosen harus di-upgrade. Dosen yang tidak mau meng-upgrade diri pasti nanti ketinggalan,” tuturnya.
 Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristekdikti Patdono Suwignjo menjelaskan, salah satu cara yang dilakukan Kemenristekdikti untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 adalah merevitalisasi 12 politeknik. 
 Kemenristekdikti juga sudah menyempurnakan regulasi yang melegitimasi pendidikan jarak jauh. ”Nanti kami akan tambah lagi aturan-aturan yang menyesuaikan dengan perkembangan implementasinya,” katanya.
     Ia mengatakan, Revolusi Industri 4.0 akan banyak ”memakan korban”. Pekerjaan yang dulu bisa dilakukan secara manual, ke depannya bisa dilakukan oleh mesin. Di lain sisi, datangnya era disrupsi ini juga akan melahirkan banyak profesi dan lapangan pekerjaan baru, termasuk membuka pendirian program studi baru di semua kampus.

  ”Nanti, pekerjaan yang tidak ada, prodinya akan ditutup karena sudah tidak dibutuhkan. Misalnya, pekerjaan yang sifatnya inspeksi, nanti bisa dilakukan oleh robot. Nanti, program studi yang masih menangani masalah itu akan ditiadakan. Kemudian kompetensi apa yang harus dibangun, itu nanti didesain melalui kurikulum,” ucapnya.
    Ia menuturkan, kecakapan dan visi rektor dalam membaca tantangan masa depan menjadi hal yang paling mendasar jika kampusnya ingin tetap eksis dan banyak peminat. 
     Menurut dia, pemimpin perguruan tinggi harus mulai mengidentifikasi mata kuliah apa saja yang akan tetap diajarkan dan harus segera ditinggalkan.

Permasalahan:
1. Menurut pendapat Kemenristekdikti " pemimpin perguruan tinggi harus mulai mengidentifikasi mata kuliah apa saja yang akan tetap diajarkan dan harus segera ditinggalkan." bagaimana pendapat teman-teman mengenai hal ini, apakah nantinya jika mata kuliah yang sekarang dianggap harus ditinggalkan nanti dikedepannya tidak bermasalah atau dibutuhkan? 
2. Bagaimana menurut teman-teman pengaruh revolusi industri era 4.0 ini terhadap multimedia pembelajaran? Apakah akan dapat membuat peningkatan pembelajaran yang lebih efektif atau tidak? 

Komentar

  1. Assalamualaikum saudari sisin, saya akan mencoba menjawab permasalahan no 2.
    Menurut saya, revolusi industrinera 4.0 ini efektid jika di terapkan. Namun ada beberapa akibat juga yang akan ditimbulkan nya. Dengan adanya teknologi yang semakin maju, maka siswa akan semakin malas.

    Sekian dan terima kasih.

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang kedua.
    Tidak dapat kita pungkiri, dengan semakin canggihnya teknologi yang sedang berkembang mau tidak mau membawa perubahan yang cukup signifikan di berbagai lintas sektor kehidupan. Salah satu bahasan yang cukup menarik yakni terkait hubungan revolusi industri 4.0 dengan sistem pendidikan di Indonesia, sesuai arahan MENRISTEKDIKTI terkait dampak industri 4.0 yakni dengan adanya ‘digitalisasi sistem’, mau tidak mau menuntut baik para dosen maupun mahasiswa untuk mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sistem pembelajaran yang semula berbasis pada tatap muka secara langsung di kelas, bukan tidak mungkin akan dapat digantikan dengan sistem pembelajaran yang terintegrasikan melalui jaringan internet (online learning). Adanya perubahan tersebut juga memiliki analisis risk-benefit, di mana keuntungan yang bisa didapatkan antara lain mahasiswa tetap bisa belajar dan tetap bisa mengakses materi pembelajaran tanpa harus hadir di kelas, hal ini pun menjadi keuntungan tersendiri bagi siswa yang mengalami kendala dalam hal jarak dan finansial.

    BalasHapus
  3. Saya akan menjawab permasalahan yang pertama, menurut saya si memang bagus seperti itu jadi mahasiswa nya bisa terfokus kepada matakuliah yang memang ada dibidang nya yang sesuai dengan peluang kerja dia nantinya

    BalasHapus
  4. Saya sependapat degan zelvi..saya setuju jika mahasiswa itu harus fokus dengan matakuliah di bidang yang ia ikuti saat ini. agar nanti nya mahasiswa itu bisa bekerja dan berkarir di bidang yang dia kuasai tersebut

    Dan menurut saya tidak masalah kalau kita meninggalkan matakuliah yang lain..selagi itu bukan dalam bidang yang dia pilih atau ikuti

    BalasHapus
  5. Menurut saya era 4.0 ini akan sangat berpengaruh karena semua hal serba modren serba digital serba canggih tanpa batasan apa pun. Ini akan sangat mempermudah orang. Efisien atau tidak nya kembali lagi kepada penggunanya. Apakah mereka akan menggunakannya dengan baik pada pembelajaran misalnya. Apakah dia akan cukup kreatif mengajarkan pada pembelajar? Seperti itu.

    BalasHapus
  6. Saya akan menjawab permasalahan kedua menurut pendapat saya adanya revolusi industri 4.0 akan lebih meningkatkan pembelajaran karena lebih memudahkan karena semua berbasis tekhnologi sehingga lebih mudah untuk diakses.

    BalasHapus
  7. saya akan membantu menjawab permasalahan anda no 2.
    efektif nya suatu media sangat di pengaruhi oleh minat seorang siswa itu sendiri terhadap pembelajaran namun jika pembelajaran hanya di lakukan seperti yang di jelaskan padaa materi anda di ats maka akan menyebabkan siswa itu semakin malas dan bosan dengan model pembelajaran yang seperti itu

    BalasHapus
  8. Baik saya akan mencoba menjawab permasalahan yang kedua .. menurut saya bisa di katakan efektif dan bisa di katakan tidak efektif.. dikatakan efektif apabila multimedia tersebut dapat berjalan dengan lancar dan benar.. artinya disini antara siswa dan guru saling terjadi interaksi .. kemudian bisa dikatakan tidak efektif apabila guru dan siswa masih bingung dalam penerapannya.

    BalasHapus
  9. Kondisi Dosen Indonesia saat ini sendiri masih didominasi oleh generasi baby boomers dan generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara mahasiswa yang dihadapi merupakan generasi millennial atau digital native. Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti pun berupaya menambah dosen dari generasi millennial, salah satunya melalui program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), yakni program beasiswa percepatan S-2 dan S-3 bagi lulusan S-1 dalam kurun waktu empat tahun. Program PMDSU sendiri setidaknya sudah melahirkan dua dosen muda berkualifikasi Doktor, yaitu Grandprix (24 tahun) dan Suhendra Pakpahan (29 tahun). Bahkan, keduanya mampu menerbitkan lebih dari lima publikasi internasional terindeks Scopus.

    “PMDSU ini merupakan sebuah terobosan yang kami lakukan guna menyediakan SDM masa depan Indonesia yang berkualitas dengan cara membangun role model pendidik dan peneliti yang ideal sekaligus menumbuhkan academic leader di perguruan tinggi, serta bekerja sama dengan komunitas keilmuan dalam merumuskan kompetensi inti keilmuan,” ucap Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenristekdikti di Medan, belum lama ini.

    Tantangan lain yang dihadapi dalam rangka memenuhi kebutuhan dosen berkualitas adalah menjaring lulusan terbaik perguruan tinggi untuk menjadi dosen. Pasalnya di era revolusi industri 4.0, profesi dosen semakin kompetitif. Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi dosen yang dibutuhkan, meliputi (1) educational competence, kompetensi berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini; (2) competence in research, kompetensi membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil mendapatkan grant internasional; (3) competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada komersialisasi dengan teknologi atas hasil inovasi dan penelitian; (4) competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan national problem; serta (5) competence in future strategies, di mana dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-publication, joint-lab, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan lain sebagainya.

    Selain bidang sumber daya iptek dikti, imbuh Nasir, pada bidang kelembagaan kebijakan baru meliputi Peraturan Menteri (Permen) tentang Standar Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PJJ), fleksibilitas dan otonomi kewenangan kepada unit untuk mendorong kreativitas dan inovasi, serta memberi kesempatan untuk beroperasinya universitas unggul dunia di Indonesia. Untuk bidang pembelajaran dan kemahasiswaan, perubahan dilakukan dengan reorientasi kurikulum untuk membangun kompetensi era revolusi industri 4.0 berikut hibah dan bimbingan teknisnya, dan menyiapkan pembelajaran daring dalam bentuk hybrid atau blended learning melalui SPADA-IdREN. Sedangkan pada bidang riset dan pengembangan serta penguatan inovasi perubahan yang dilakukan meliputi penerapan teknologi digital dalam pengelolaan riset, harmonisasi hasil riset dan penerapan teknologi melalui Lembaga Manajemen Inovasi, serta mendorong riset dan inovasi di dunia usaha atau industri dengan pemberian insentif fiskal maupun non fiskal.

    “Perguruan tinggi asing yang akan masuk Indonesia ini sudah mengantre. Kita jangan melihat sebagai ancaman tetapi peluang. Kemenristekdikti mengatur melalui Permen terkait izin perguruan asing tersebut, termasuk penetapan lokasi, program studi yang dibuka, bahkan mewajibkan untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan perguruan dalam negeri,” simpul Nasir kepada awak media.

    BalasHapus
  10. Dari permasalahan nomor 2. Menurut saya, pengaruh revolusi industri era 4.0 ini dapat meningkatkan pembelajaran. Karena banyak memanfaatkan teknologi terkini dalam proses belajar mengajar.

    BalasHapus
  11. Salah satu bahasan yang cukup menarik yakni terkait hubungan revolusi industri 4.0 dengan sistem pendidikan di Indonesia, sesuai arahan MENRISTEKDIKTI terkait dampak industri 4.0 yakni dengan adanya ‘digitalisasi sistem’, mau tidak mau menuntut baik para dosen maupun mahasiswa untuk mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sistem pembelajaran yang semula berbasis pada tatap muka secara langsung di kelas, bukan tidak mungkin akan dapat digantikan dengan sistem pembelajaran yang terintegrasikan melalui jaringan internet (online learning

    BalasHapus
  12. Malam .
    jika mahasiswa itu harus fokus dengan matakuliah di bidang yang ia ikuti saat ini. agar nanti nya mahasiswa itu bisa bekerja dan berkarir di bidang yang dia kuasai tersebut

    Dan menurut saya tidak masalah kalau kita meninggalkan matakuliah yang lain..selagi itu bukan dalam bidang yang dia pilih atau ikuti. Itu mungkin akan lebih mendorong untuk kemajuan diri nya.

    BalasHapus
  13. Menurut saya penggunaan media sangat bagus apalagi dizaman modern ini,
    Dan untuk mata kuliah yang bukan bidang kita seharusnya ga usah terlalu dipentingnkan sebaiknya kita fikus dengan bidang kita masing2

    BalasHapus
  14. menurut saya bisa di katakan efektif dan bisa di katakan tidak efektif.. dikatakan efektif apabila multimedia tersebut dapat berjalan dengan lancar dan benar.. artinya disini antara siswa dan guru saling terjadi interaksi .. kemudian bisa dikatakan tidak efektif apabila guru dan siswa masih bingung dalam penerapannya.

    BalasHapus
  15. Menurut saya, revolusi era 4.0 ini cukup efektif mengingat kemajuan zaman yang sudah semakin canggih dan pendidikan harus turut bisa mengikuti dan mengimbanginya.

    BalasHapus
  16. menurut saya, revolusi industri 4.0 dalam multimedia apabila akan semakin berkembang maka akan semakin afektif jika siswa yang mempergunakannya dengan baik dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan pembelajaran lewat video animasi maupun gambar. namun ada baikkya seorang guru tidak terlena dalam pembelajran lewat media (E-earning). akan lebih dianjurkan guru tetap aktif dalam penyampaian suatu materi dan menyertakan pembagian tugas. serta memastikan apakah siswa yang diajarkan afektif dalam mempelajari materi serta aktif dalam pengerjaan tugas-tugas yang di berikan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Presentasi Multimedia pembelajaran kimia Hasil Pengembangan

Pengembangan e-learning dalam pembelajaran kimia