Landasan Teoritis Multimedia Pembelajaran
A. Pengertian Multimedia Pembelajaran
Multimedia diambil dari kata multi dan media. Multi berarti banyak dan media berarti media atau perantara. Multimedia adalah gabungan dari beberapa unsur yaitu teks, grafik, suara, video dan animasi yang menghasilkan presentasi yang menakjubkan. Multimedia juga mempunyai komunikasi interaktif yang tinggi. Bagi pengguna komputer multimedia dapat diartikan sebagai informasi komputer yang dapat disajikan melalui audio atau video, teks, grafik dan animasi.
Multimedia dimanfaatkan juga dalam dunia pendidikan dan bisnis. Di dunia pendidikan, multimedia digunakan sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri. Di dunia bisnis, multimedia digunakan sebagai media profil perusahaan, profil produk, bahkan sebagai media kios informasi dan pelatihan dalam sistem e-learning.
Pada awalnya multimedia hanya mencakup media yang menjadi konsumsi indra penglihatan (gambar diam, teks, gambar gerak video, dan gambar gerak rekaan/animasi), dan konsumsi indra pendengaran (suara). Dalam perkembangannya multimedia mencakup juga kinetik (gerak) dan bau yang merupakan konsupsi indra penciuman. Multimedia mulai memasukkan unsur kinetik sejak diaplikasikan pada pertunjukan film 3 dimensi yang digabungkan dengan gerakan pada kursi tempat duduk penonton. Kinetik dan film 3 dimensi membangkitkan sense realistis.
Baru mulai menjadi bagian dari multimedia sejak ditemukan teknologi reproduksi bau melalui telekomunikasi. Dengan perangkat input pendeteksi bau, seorang operator dapat mengirimkan hasil digitizing bau tersebut melalui internet. Komputer penerima harus menyediakan perangkat output berupa mesin reproduksi bau. Mesin reproduksi bau ini mencampurkan berbagai jenis bahan bau yang setelah dicampur menghasilkan output berupa bau yang mirip dengan data yang dikirim dari internet. Dengan menganalogikan dengan printer, alat ini menjadikan feromon-feromor bau sebagai pengganti tinta. Output bukan berupa cetakan melainkan aroma.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Ada beberapa jenis media pembelajaran yaitu, teks, media audio, media visual, media proyeksi gerak, dan manusia.
Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari. Maka dapat diambil kesimpulan. Manfaat dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar dapat mengarahkan perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi untuk belajar dan materi yang diajarkan akan lebih jelas, cepat dipahami sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa.
Penggunaan media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar. Diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien.
1. Landasan Filosofis
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil dari teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Bisa dikatakan, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Tetapi, siswa harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya.
2. Landasan Psikologis
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
3. Landasan Teknologis
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
4. Landasan Empiris
Berdasarkan landasan rasional empiris, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pembelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
5. Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rasional penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.
Media Pembelajaran memiliki beberapa landasan teoritis yang kuat dalam sistem pembelajaran, diantaranya adalah sebagai berikut:
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, diantaranya yaitu:
- Tahap pengalaman langsung (Eractive), merupakan tahap individu berupa memahami lingkungan dengan beraktifitas.
- Tahap Pictoria (Ekonit), tahap individu melihat dunia melalui gambar dan menvisualisasi verbal.
- Tahap simbolik, tahap dimana individu mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika berpikirnya.
2. Teori Behavourisme
Teori behaviorisme atau teori tingkah laku ini menganggap bahwa segala kejadian dilingkungan sangat mempengaruhi perilaku seseorang dan akan memberikan pengalaman tertentu dalam dirinya, dan teori ini menganggap perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma S-R(stimulus respons) yaitu suatu proses yang memberikan respons tertentu terhadap apa yang datang dari luar diri individu.
3. Teori Kerucut Pengalaman Edgar Dale
Kerucut pengalaman ini merupakan salah satu gambaran yang dijadikan landasan teori dalam penggunaan media pembelajaran selain dari ketiga tahap pengalaman Bruner.
Edgar Dale mengklasifikasikan pengalaman belajar anak mulai dari hal-hal yang dianggap paling abstrak. Klasifikasi pengalaman tersebut lebih dikenal dengan-kerucut pengalaman, yang terdiri dari 11 macam klasifikasi media pengajaran seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini:
Penggunaan media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar yang digunakan secara sistematis dalam kegiatan pembelajaran juga dapat memberikan interaksi antara pengalaman baru dan pengalaman sebelumnya, sehingga terjadi perubahan pada anak didik.
Pemerolehan pengetahuan, perubahan sikap dan ketrampilan dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Tingkat pemerolehan hasil belajar seperti yang digambarkan oleh Dale (1969) sebagai proses komunikasi.
Proses pembelajaran dapat berhasil-dengan baik apabila siswa diajak untuk memanfaatkan semua alat indranya. Semakin banyak alat indra yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dipahami serta dipertahankan dalam ingatan.
Perbandingan pemerolehan hasil belajar melalui indra pandang dan indra dengar sangat menonjol perbedaannya. Kurang lebih 80% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indra pandang, dan hanya 15% diperoleh melalui indra dengar dan 5% lagi dari indra yang lainnya.
PERMASALAHAN:
1. Dari penjelasan saya diatas saya sedikit tertarik dengan ungkapan "Proses pembelajaran dapat berhasil-dengan baik apabila siswa diajak untuk memanfaatkan semua alat indranya". Nah bagaimana dengan siswa yang salah satu inderanya tidak berfungsi dengan baik misalnya buta. Bagaimana cara kita agar multimedia dapat menunjang proses pembelajaran agar tercapai bagi siswa yang seperti itu?
2. Bagaimana pengaruh dari multimedia dalam keberhasilan belajar siswa dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa serta dapat membuat siswa menjadi kreatif dan aktif?
3. Apakah hasil belajar semua siswa bisa memperoleh keberhasilan yang bagus atau meningkat jika pembelajaran dilengkapi dengan multimedia dalam pembelajaran?
PERMASALAHAN:
1. Dari penjelasan saya diatas saya sedikit tertarik dengan ungkapan "Proses pembelajaran dapat berhasil-dengan baik apabila siswa diajak untuk memanfaatkan semua alat indranya". Nah bagaimana dengan siswa yang salah satu inderanya tidak berfungsi dengan baik misalnya buta. Bagaimana cara kita agar multimedia dapat menunjang proses pembelajaran agar tercapai bagi siswa yang seperti itu?
2. Bagaimana pengaruh dari multimedia dalam keberhasilan belajar siswa dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa serta dapat membuat siswa menjadi kreatif dan aktif?
3. Apakah hasil belajar semua siswa bisa memperoleh keberhasilan yang bagus atau meningkat jika pembelajaran dilengkapi dengan multimedia dalam pembelajaran?

Assalamualaikum saudari sintari, saya akan mencoba menjawab permasalahan dari anda.
BalasHapusMenurut saya, walaupun peserta didik nya berkebutuhan khusus tidak berarti proses belajar nya tidak berhasil.
Sebagai pendidik berkebutuhan khusus pasti mereka mempunyai trik trik dan cara yang tepat untuk anak anak yag berkebutuhan khusus.
Contoh nya :
1. Bagi peserta didik yang buta, pendidik bisa mengajar nya melalui audio, kemuadian indra perasa nya.
2. Bagi peserta didik yang tuli atau bisu, pendidik bisa mengajar nya melalui video.
Dan yang terpenting adalah kasih sayang dan perhatian, serta motivasi untuk anak anak yang berkebutuhan khusus.
Jadi bukan tidak berhasil, karena banyak anak berkebutuhan khusus justru lebih pintar dan lebih sukses dari pada anak normal .
Terima kasih.
Wassalamualaikum wr.wb
Saya sependapat dengan saudari yulisa dimana guru memang harus berperan lebih untuk siswa yang berkebutuhan karena mereka sangat memerlukan motivasi agar tetap semangat. Namun saya ingin menambahkan media lain yang dapat digunakan bagi orang buat yaiti bukan cma video, tapi dapat juga digunakan Huruf Braille, dimana sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh orang buta.
HapusBelajar secara umum dapat diartikan sebagai perubahan, contohnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau menjadi mau, dan lain sebagainya. Namun demikian tidak semua perubahan pasti merupakan peristiwa belajar. Sedangkan yang dimaksud perubahan dalam belajar adalah perubahan yang relatif, konstan, dan berbekas.
BalasHapusRelatif artinya ada kalanya suatu hasil belajar ditiadakan atau dihapus dan digantii dengan yang baru, dan ada kemungkinan suatu saat hasil belajar terlupakan. Hal ini tergantung dari kebutuhan belajar saat itu, karena belajar terjadi dalam interaksi dengan lingkungan. Dengan demikian relatif tersebut dalam arti tergantung dari perubahan lingkungan.
Konstan dan berbekas maksudnya bahwa perubahan dalam belajar harus menjadi milik pribadi, artinya perubahan itu akan bertahan lama, sehingga bila digunakan akan segera dapat direproduksi. Nah dari permaslahan anda kan pembelajaran akan berjalan dengan baik jika siswa diajak untuk memanfaatkan semua alat indaranya,nah jika yang misalnya buta tentu proses belajar nya atau cara belajar dan pengajarnya itu tidak sama dengan siswa yang normal yang bisa memanfaatkan semua alat indranya jadi untuk kasus seperti itu menurut saya memang perlu dibedakan dengan siswa yang normal dan memerlukan perlakuan dan tempat yang khusus. Misalnya ia bisa bersekolah di STLB karena disana pasti akan ada yang bisa bisa lebih memahami dan mengajari dengan keadaan yang seprti itu
Terima kasih atas jawaban saudari zelvi.
HapusMemang orang yang berkebutuhan khusus lebih banyak ditempatkan disekolah SLTB, tapi menurut saya bukan hanya di SLTB tapi juga bisa disekolah umum biasanya.memang diperlukan perhatian yang lebih dari gurunya tersebut terhadap siswa yang berkebutuhan dari pada siswa lainnya. Dan juga diperlukan pertpertem yang baik dari siswa lainnya
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya ingin mencoba menjawab permasalahan yang muncul dari blog anda bahwa bagaimana multimedia untuk anak yang berkebutuhan khusus atau ada salah satu dari panca indra yang tidak berfungsi disini guru harus dituntut kreatif dan bisa mensiasati hal tersebut misalkan anak memiliki kekurangan yaitu buta maka multimedia harus bisa kita seimbangkan misal nya menggunakan media yang bersuara atau audio yang bisa didengar oleh anak tersebut karena pada dasarnya adalah jika salah satu panca indra tidak berfungsi maka panca indra lain berfungsi lebih tajam .atau jika ada banyak murid yang memiliki kekurangan seperti itu bisa disarankan untuk bersekolah di SLB disana akan lebih dipusatkan tentang pembeljaran untuk anak berkebutuhan khusus.
Saya rasa sekian terimakasih.
Terima kasih saudari heni, menurut saya Salah satunya adalah multimedia pembelajaran interaktif (MPI) untuk ABK. Karena yang paling memungkinkan adalah media berbasis komputer. Hal ini bukan tanpa alasan, karena setiap anak/siswa berkebutuhan khusus ini memiliki tuna yang beragam. Ada tuna grahita, tuna netra, tuna dhaksa, tuna rungu, tuna laras dan ketunaan yang lainnya. Masing-masing ketunaan memiliki terapi dan pelayanan tersendiri. Dari contoh yang sudah disebutkan dikomenan saya yang lainnya, memang perlu dikembangkan lagi karena masih kurang efektif untuk semua tuna.
HapusMedia Pembelajaran bagi Tunanetra
BalasHapusSelain kekhususan metode pengajaran yang di gunakan oleh anak tunanetra. Mereka pun mempunyai kekhususan dalam menggunakan media pembelajaran. Karena kondisi penglihtan mereka yang tak berfungsi, maka media yang di gunakan untuk pengajaran anak tunanetra ialah media yang dapat dijangkau dengan pendengaran dan perabaannya. Adapun media tersebut ialah Papan baca (Kenop), Reglette dan Stilus (pena) yaitu alat tulis manual, Mesintik Braille (Perkins Braille) , Kaset.[1] Media Pembelajaran yang diterapkan pada anak-anak tunanetra di beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) meliputi: alat bantu menulis huruf Braille (Reglette, Pen dan mesin ketik Braille); alat bantu membaca huruf Braille (Papan huruf dan Optacon); alat bantu berhitung (Cubaritma, Abacus/Sempoa, Speech Calculator), serta alat bantu yang bersifat audio seperti tape-recorder. Khusus Alat bantu membaca huruf Braille adalah alat bantu pembelajaran untuk mengenal huruf Braille alat ini biasa disebut pantule singkatan dari Papan Tulis Braille. Alat ini terdiri dari paku-paku yang dapat ditempel pada papan sehingga membentuk kombinasi huruf Braille, seperti laci atau kotak peti, terbuat dari papan dengan lubang-lubang tempat memasukkan pin-pin logam. Salah satu kelemahan papan tulis Braillle ada pada pinnya yang terlepas dari papannya, sehingga kerap hilang. Selain itu, ukurannya yang relatif besar dan terbuat dari papan membuatnya berat untuk dibawa-bawa.Media Pembelajaran bagi Tunanetra
Selain kekhususan metode pengajaran yang di gunakan oleh anak tunanetra. Mereka pun mempunyai kekhususan dalam menggunakan media pembelajaran. Karena kondisi penglihtan mereka yang tak berfungsi, maka media yang di gunakan untuk pengajaran anak tunanetra ialah media yang dapat dijangkau dengan pendengaran dan perabaannya. Adapun media tersebut ialah Papan baca (Kenop), Reglette dan Stilus (pena) yaitu alat tulis manual, Mesintik Braille (Perkins Braille) , Kaset.[1] Media Pembelajaran yang diterapkan pada anak-anak tunanetra di beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) meliputi: alat bantu menulis huruf Braille (Reglette, Pen dan mesin ketik Braille); alat bantu membaca huruf Braille (Papan huruf dan Optacon); alat bantu berhitung (Cubaritma, Abacus/Sempoa, Speech Calculator), serta alat bantu yang bersifat audio seperti tape-recorder. Khusus Alat bantu membaca huruf Braille adalah alat bantu pembelajaran untuk mengenal huruf Braille alat ini biasa disebut pantule singkatan dari Papan Tulis Braille. Alat ini terdiri dari paku-paku yang dapat ditempel pada papan sehingga membentuk kombinasi huruf Braille, seperti laci atau kotak peti, terbuat dari papan dengan lubang-lubang tempat memasukkan pin-pin logam. Salah satu kelemahan papan tulis Braillle ada pada pinnya yang terlepas dari papannya, sehingga kerap hilang. Selain itu, ukurannya yang relatif besar dan terbuat dari papan membuatnya berat untuk dibawa-bawa.
Terima kasih atas jawaban saudari fania yang sangat lengkap sekali.
HapusSaya ingin memperjelas dari pendapat saudari fania, bahwa alat untuk siswa yang buat dapat digunakan video, huruf braile.
Kemudian untuk anak yang tuli, dapat memggunakan gambar, teks, dll
Untuk anak yang bisu dapat menggunakan pena dan buku dalam menyampaikan apa yang ada difikirannya dan juga menggunakan bahasa isyarat
Pemilihan media pembelajaran juga harus memperhatikan kondisi siswa sebagai subjek pembelajaran. Pemilihan media belajar seyogyanya harus disesuaikan dengan kondisi siswanya. Siswa tunanetra berbeda kondisinya dengan tuna rungu, begitu pula dengan siswa normal, semuah siswa memiliki kekhususan dalam melakukan pembelajaran. Berikut ini kita akan lebih membahas bagaimana siswa tunanetra mengatasi keterbatasannya dalam belajar yang berkaitan dengan pembelajaran menggunakan media peta. Pengetahuan tentang sifat-sifat ruang dari benda yang biasa dilakukan lewat penglihatan, dapat dilakukan pula dengan rabaan. Di sini pengalaman kinestetis memegang peranan penting. Dengan rabaan anak tuna netra bisa tahu tentang bentuk benda, besar kecilnya, bahkan mempunyai kelebihan yaitu bisa mengerti halus kasarnya ( teksture) dan daya lenting ( elastisitas ) serta berat ringannya suatu benda. Tetapi meskipun ada kelebihannya, anak tuna netra memiliki kekurangan. Rabaan dibatasi oleh jarak jangkauan yang pendek, hanya sepanjang tangannya. Meskipun tidak tergantung kepada adanya cahaya, akibatnya benda-benda yang jauh tidak dapat dikenal, atau benda-benda yang terlalau besar sulit untuk dikenali. Demikian pula benda-benda yang tidak mungkin diraba tetap tidak dikenalnya dengan baik karena sifatnya. Misalnya, anak tuna netra tidak bisa menegenal bentuk api karena panasnya.
BalasHapusPenglihatan memiliki fungsi yang khas karena itu terpenting, yaitu sebagai indera penyatu dan pemadu. Dengan penglihatannya, orang dapat mengetahui sesuatu secara menyeluruh dan serentak. Berbagai sifat benda dapat dikenal secara rinci dan terpadu. Oleh karena itu, tidak adanya penglihatan telah dibuktikan banyak mempunyai berbagai macam akibat. Hal ini akan menempatkan anak tuna netra dalam kesulitan untuk memperoleh kecakapan atau kemampuan.
Persepsi warna adalah juga khas kemampuan penglihatan. Oleh karenanya, tidak mungkin dapat digantikan oleh indera lain utuk mengerti tentang warna. Dengan demikian, ia juga tidak mungkin memiliki konsep warna yang sebenarnya. Ia akan mengembangkan pengertiannya tentang warna secara verbal misalnya, emas dapat diketahui berwarna kuning karena ia pernah mendengar dari orang lain bahwa emas berwarna kuning. Akibat yang jelas dan mudah dilihat jika seseorang kehilangan fungsi penglihatan adalah ketika ia terpaksa melakukan kegiatan berpindah-pindah dan mencari sesuatu yang hilang.
Sebagai contoh, ketika media peta timbul digunakan siswa untuk mengenal konsep ruang yang dijelaskan dalam pelajaran sejarah, dimungkinkan siswa akan mengalami kesulitan memahami pelajaran sejarah tersebut melalui cerita. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan daya konsentrasi dan ketertarikan siswa tersebut. Pada saat siswa tunanetra meraba peta timbul dan menerima sensasi raba, siswa diharapkan akan lebih memahami pelajaran yang diberikan, karena mereka telah mengalami perabaan pada media tersebut. Pengalaman tersebut akan lebih mudah tersimpan dalam memori siswa tunanetra.
Sehingga dengan media peta timbul ini akan meningkatkan ketertarikan siswa pada pelajarannya. Lebih jauh lagi, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Begitu pula dengan pelajaran lainnya, diharapkan guru bisa memilih media yang tepat untuk menyampaikan materi yang diajarkan. Kesesuaian media pembelajaran dan materi pelajaran diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa, kesesuaian tersebut juga harus memperhatikan situasi dan kondisi siswa sebagai warga belajar.
Terima kasih atas jawaban saudari nurazlina yang sangat lengkap sekali tentang tuna netranya.
HapusSaya ingin memperjelas dari pendapat saudari nurazlina , bahwa alat untuk siswa yang buta dapat digunakan video, huruf braile.
Kemudian untuk anak yang tuli, dapat menggunakan gambar, teks, dll
Untuk anak yang bisu dapat menggunakan pena dan buku dalam menyampaikan apa yang ada difikirannya dan juga menggunakan bahasa isyarat.
Memang media tersebut tidak dapat sepenuhnya menutupi dari kekurangan siswa tersebut, namun hal yang plaing adalah motivasi atau semangat siswa dalam belajar dan menjalani kehidupan
saya akan menjawab permasalahan anda menurut saya hasil belajar siswa akan memperoleh keberhasilan dengan menggunakan multimedia karena multimedia ini sangat membantu siswa, apalagi jika siswa tersebut cepat jenuh dalam belajar . banyak media yang bisa digunakan contoh media gambar, suara, video, ppt dan banyak lagi. dan dengan adanya multimedia ini peserta didik akan lebih semangat lagi untuk belajarnya.jadi multimedia ini mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar.
BalasHapusSaya akan sedikit menambahkan pendapat saudari enda, keberhasilan belajar memang juga dipengaruhi oleh multimedia pembelajaran. Namun hal tersebut dapat terlaksana jika gurunya mampu memilih multimedia yang baik dan sesuai dengan materi yang hendak disampaikan.
HapusSaya akan menjawab permasalahan anda yang ke-2, Untuk pemakaian media Perlu di kaji tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran. Dari kajian tujuan tersebut bisa di analisis media apa saja yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut.Selain itu analisis dapat diarahkan pada tujuan yang bersifat kognitif,afektif, dan psikomotorik. Kriteria pemilihan media didasarkan atas kesesuaiannya.Kriteria pemilihan media didasarkan atas kesesuainnya dengan standar kompetisi, kompetesi dasar dan terutama indicator
BalasHapusSaya akan mencoba menambahkan sedikit pendapat dari saudari indah. Selain hal-hal yang harus diperhatiakan diatas yang telah disebutkan saudari indah, perlu juga diperhatikan gaya belajar siswa dan kemampuannya dalam menangkap materi yang disampaikan. Karena setiap sidwa memiliki cara nya tersendiri dalam belajar, jadi diharapkan multimedia yang dipilih oleh guru dapat merangkul dari berbagai perbedaan siswanya
HapusSaya akan menjawab permasalahan Anda yang ketiga. Tentu saja akan terlengkapi karena semakin banyak varian multimedia yg dapat pengajar gunakan, akan membuat suasana belajar lebih asyik dan tidak menoton. Namun ada baiknya penggunaan multimedia ini harus disesuai dengan materi yang diajarkan sehingga siswa tidak menganggap remeh terhadap materi pelajarannya.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan ke 3Dengan adanya Media Pembelajaran yang berkualitas seiring dengan perkembangan IPTEK dapat mengatasi masalah keterbatasan indera, ruang dan waktu sehingga proses belajar mengajar lebih memudahkan guru dalam menyampaikan materi. Penggunaan media tersebut akan berbanding lurus dengan pencapaian pembelajaran yang efektif dan efisien, dengan di tampilkan obyek seperti video gunung meletus, tanpa kita membawa siswa pada situasi yang sebenarnya terjadi pada aslinya tetapi siswa dapat memahami dengan video tersebut. Dengan kemajuan IPTEK yang terjadi di media baik dari media pembelajaran pada era sekarang maka seharusnya proses pembelajaran haruslah bisa efektif dan efisien.
BalasHapusMenurut Hamalik (1986) dalam bukunya Attarbiyatun wata’liim mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dab bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswanya. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pembelajaran pada saat ini.
Menurut saya, walaupun peserta didik nya berkebutuhan khusus tidak berarti proses belajar nya tidak berhasil.
BalasHapusSebagai pendidik berkebutuhan khusus pasti mereka mempunyai trik trik dan cara yang tepat untuk anak anak yag berkebutuhan khusus.
Contoh nya :
1. Bagi peserta didik yang buta, pendidik bisa mengajar nya melalui audio, kemuadian indra perasa nya.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2. Menurut saya kberhasilan suatu pembelajaran juga dapat ditunjang dari penggunaan multimedia yang menarik. Apabila seorang guru dapat memanfaatkan multimedia sesuai dengan isi dari kurikulum yang akan diajarkan, maka pembelajaran akan efektif dn siswa akan mudah memahami materi yang diajarkan.
BalasHapusUntuk jawaban permasalahan yg ketiga. Saya rasa bisa karna dengan bantuan multimedia pembelajaran jadi lebih menarik dan lebih terlihat nyata
BalasHapusjawaban untuk permasalahan nomor 2
BalasHapusPenggunaan media atau alat bantu disadari oleh banyak praktisi
pendidikan sangat membantu aktivitas proses pembelajaran baik di dalam maupun
di luar kelas, terutama mambantu peningkatan prestasi belajar siswa. Multimedia
pembelajaran merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan
untuk meningkatkan minat, motivasi dan prestasi belajar siswa. Multimedia
pembelajaran menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih interaktif dan
menarik sehingga siswa menjadi lebih bersemangat untuk mengikuti pelajaran.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Menurut saya, multimedia dapat dimanfaatkan sebagai penunjang dalam pembelajaran kimia yang biasanya dominan dengan teori. Jadi dengan adanya multimedia, diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai bila multimedia yang digunakan menarik minat belajar siswa.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Menurut saya, multimedia dapat dimanfaatkan sebagai penunjang dalam pembelajaran kimia yang biasanya dominan dengan teori. Jadi dengan adanya multimedia, diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai bila multimedia yang digunakan menarik minat belajar siswa.
BalasHapusjawaban dari permasalahan nomor 2, Dunia yang berubah dengan sangat cepatnyamenuntut manusia untuk dapat berpikir kritis bila ingin berhasil, tidak hanyadi dunia pendidikan tetapi juga dalam hidup yang dijalani setelah menyelesaikan sekolah formal. Pendidikan dijadikan tolak ukur seseorang mengenai cara berpikirnya, guna meningkatkan kesejahteraan dan mempertahankan hidup untuk menghadapi arus globalisasi. Kemajuan ilmu pengetahuan akan mempengaruhi cara belajar yang efektif, sehingga perlu adanya cara berpikir secara terarah dan jelas. Denganbanyak permasalahan-permasalahan yang muncul, perlu adanya pembaharuan-pembaharuan di lingkungan pendidikan yang mengarahkan pembelajaran agardapat selalu berpikir kritis. Banyak yang beranggapan bahwa untuk dapatberpikir kritis memerlukan suatu tingkat kecerdasan yang tinggi. Padahal,berpikir kritis dapat dilatih pada semua orang untuk dipelajari. Disinilah peranan pendidikan memberikan suatu konsep cara belajar yang efektif.
BalasHapusKeberhasilan proses belajar mengajar pada pembelajaran dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta prestasi belajar siswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta prestasi belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran.